Adabeberapa riwayat yang menceritakan, sebelum pertobatannya, Abu Nawas adalah seorang pemabuk berat. Syair-syairnya masa itu lebih banyak bercerita tentang minuman, wanita dan cinta. Tapi meski seorang pemabuk, kepiawaiannya dalam mencipta syair ketika itu nyaris tak tertandingi. Maafkanlahdia (Abu Nawas)." Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi'i tidak mau menshalati jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini: Danbagi Abu Nawas, gembok merupakan sarana menertawakan hidup. Sebelum meninggal dunia, ia pernah berpesan pada keluarganya, agar kelak gerbang makamnya menampilkan gembok sebesar ember. Seumur hidupnya ia hanya ingin beramal dengan menyenangkan orang lain, maka dengan gembok sebesar ember di makamnya semoga bisa jadi amal terakhir. Abu Nawas Al-hasan ibn Hani Al-hakami dikenal sebagai Abu Nawas, adalah seorang penyair tersohor Arab klasik. Dia juga dikenal sebagai master dari semua genre puisi Arab kontemporer. Namun, tradisi cerita rakyat ternyata juga dia rambah, seperti yang muncul beberapa kali dalam Seribu Satu Malam. Selaincerdik, fenomenalnya Abu Nawas juga berkat syair pertobatannya "ilahi lastu" yang berjudul Al I'tiraf. Syair ini makin terkenal pada awal 2000an setelah disenandungkan oleh penyanyi religi Haddad Alwi dalam album 'Cinta Rasul' (1999). baca juga: Telak! Jawaban Cerdas Abu Nawas Ini Bikin Baginda Raja Mati Kutu di Hadapan Menterinya Discovershort videos related to pesan abu nawas sebelum meninggal on TikTok. Watch popular content from the following creators: si_rajun(@pengeja.hujan), Modeairplane📵(@_mode_airplane), DAN™🌠 (@syakieb.1), si_rajun(@pengeja.hujan), Secerah Qalbu(@secerahqalbu), HILDE🌺🇲🇾(@ld.raja.pugut), يوسريل ماهيندرا(@yusril_mahendra04), QEENA1212(@papanyaqeena), pemuDAIslam Inilahyang betul-betul harus kita perhitungkan: adakah kita termasuk seseorang yang husnul khatimah atau suul khatimah. Dari keterangan Nabi tersebut Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa setiap orang akan dibangkitkan dalam kondisi persis seperti ketika ia mati (mengenai bahagia ataupun celakanya). Dan kondisi kematian seseorang adalah persis 0F7rLw. Jakarta - Pernah dengar tentang Abu Nawas? Pria yang memiliki nama Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami itu merupakan seorang sufi yang cerdas sekaligus pujangga sastra Arab Abu Nawas ia peroleh semasa remaja di Basrah, Irak Selatan, tempat di mana dirinya dibesarkan. Penamaan Abu Nawas akibat rambutnya yang ikal dan panjang buku Kisah 1001 Malam Abu Nawas Sang Penggeli Hati tulisan Rahimsyah, dikatakan Abu Nawas pernah merayu Tuhan melalui syair. Lantas, bagaimana sosok Abu Nawas?Profil Singkat Abu NawasAbu Nawas sekitar tahun 757 M di Provinsi Ahwaz, Khuzistan atau sebelah barat daya Persia. Namun, para ulama berbeda pendapat terkait tahun kelahirannya, seperti dikutip dari buku Abu Nawas Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka oleh Muhammad Ali ayah wafat saat Abu Nawas masih kecil. Setelahnya, ibu dari Abu Nawas membawa putranya itu ke Kota Basrah, Irak karena alasan ekonomi. Abu Nawas kepada seseorang bernama Attar untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan anak begitu, Abu Nawas mendapat perlakuan baik dari Attar. Ia disekolahkan di sekolah Al-Qur'an hingga berhasil menjadi hafiz. Pengetahuannya terhadap kalam Allah SWT inilah yang kelak menjadi karakter linguistik syair-syair yang ia Abu NawasAbu Usamah bin al-Hubab al-Asadi, seorang penyair Kufah keturunan persia tertarik dengan kecerdasan Abu Nawas. Setelahnya, Abu Nawas diangkat menjadi Walibah begitu terkenal karena puisinya yang homoerotik, tidak bermoral, tetapi ia sangat fasih dan terampil menggunakan diksi-diksi yang ringan, tajam, dan jenaka. Kemampuannya inilah yang kemudian mewarnai ciri puisi karya Abu buku Biografi Tokoh Sastra karya Ulinuha Rosyadi dikatakan bahwa kelihaian Abu Nawas di dunia sastra semakin bersinar setelah berhasil menarik perhatian Khalifah Harun musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas kemudian diangkat menjadi penyair istana syai'rul bilad yang bertugas mengubah puisi puji-pujian untuk syair-syair Abu Nawas berisi keglamoran. Seiring berjalannya waktu, lambat laun karya Abu Nawas justru condong kepada nuansa religi dan kepasrahan kepada Allah, sebagaimana disebutkan oleh Siti Nur Aidah dalam bukunya yang bertajuk 25 Kisah Pilihan Tokoh Sufi Al I'tiraf Karya Abu NawasTerdapat salah satu syair Abu Nawas yang cukup populer. Syair tersebut berisi mengenai dirinya yang tidak pantas menjadi penghuni surga, namun ia juga takut masuk itu dikenal dengan sebutan syair Al I'tiraf atau syair untuk merayu Tuhan. Berikut bunyinyaIlahi lastu lil firdausi ahlaWala aqwa ala naril jahimiFahab li taubatan waghfir dzunubiFainnka ghafiruz dzambil adzimiArtinyaTuhanku, tidaklah pantas hamba menjadi penghuni surgaNamun hamba juga tidak kuat menahan panas api nerakaMaha beri hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hambaKarena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha AgungKisah Lucu Abu Nawas dan KeledainyaSemasa hidupnya, Abu Nawas banyak memperlihatkan tingkahnya yang menjengkelkan tapi jenaka. Cerita Abu Nawas banyak dibaca untuk menghibur diri dan memperoleh pesan-pesan penuh makna. Berikut ini merupakan cerita Abu Nawas bersama keledainya sebagaimana dikutip dari laman NU Nawas memiliki seekor keledai yang setia menemaninya. Ketika saat-saat genting menghadapi Baginda Raja, keledai tersebut dimanfaatkan Abu Nawas sebagai contoh, ketika Abu Nawas diusir keluar kampung karena menurut penasihat raja, Abu Nawas akan mendatangkan musibah. Hal itu disadarkan atas mimpi sang raja yang diputuskan oleh satu hukuman Abu Nawas ialah dilarang kembali ke kampung dengan menaiki keledai. Jika melanggar, maka Abu Nawas akan kena hukuman masyarakat gembira Abu Nawas telah kembali ke kampung. Begitu juga dengan sang raja dan punggawa rasa senang yang dirasakan oleh orang-orang istana dikarenakan mereka akan menghukum Abu Nawas. Sayangnya, kegembiraan orang-orang istana buyar, karena Abu Nawas kembali ke kampung tidak menaiki keledai, melainkan bergelantungan di bawah perut hewan demikian, Abu Nawas tidak bisa dikatakan menaiki keledai. Ia lantas selamat dari hukuman juga pada satu waktu, Abu Nawas kesal terhadap keledainya. Ia kemudian memukuli keledainya di tempat Abu Nawas terhadap keledainya dilihat oleh seorang pria. Pria tersebut bertanya kepada Abu Nawas, "Mengapa anda memukuli binatang yang lemah?"Berseloroh, Abu Nawas lantas melontarkan jawaban sebagai berikut, "Maaf, apakah dia anggota keluarga Anda?" Simak Video "Maestro Kaligrafi Indonesia" [GambasVideo 20detik] aeb/lus Adakalanya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang melalui dosa-dosanya, dan menghinakan seseorang justru dengan amal tabi’in, Sa’id bin Jubair, berkata bahwa ini terjadi ketika seorang hamba bangga akan amalannya sehingga kesombongan menjauhkannya dari Rahmat Allah. Sementara perasaan hina karena banyaknya dosa dapat membuat seorang hamba bersimpuh, lunak hatinya, dan bertaubat sehingga Allah mengampuni kemudian Allah berkata dalam hadis qudsi, “Kalau kalian tidak berdosa maka Allah akan menjadikan kalian sirna, lalu Allah mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa lalu mereka bertaubat kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka.” HR. Muslim.Abu Nawas, misalnya, adalah penyair masyhur di era kerajaan Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat “100 Malam” Alfu Lailatin wa Lailah. Abu Nawas memang gemar meminum khamr sampai-sampai beliau menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul khamriyyat. Ia juga gemar bersenang-senang dengan banyak wanita dan dianggap sebagai seorang zindiq. al Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir, 14/73.Meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al Qur’an, ilmu hadis, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Setelah hidayah Allah, besar kemungkinan taubatnya Abu Nawas ditengarai oleh manfaat ilmu agama yang pernah dipelajarinya. Sisi lain dari Abu Nawas inilah yang tidak sepopuler reputasinya sebagai penyair eksentrik dan gemar Abu Nawas, Abu Khalikan, menuturkan dalam Wafiyatul A’yan 2102 bahwa sebelum wafatnya, Abu Nawas menulis bait-bait syair yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ibnu Khalikan mengaku bertemu Abu Nawas dalam mimpi dimana ia berkata, “Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?”Abu Nawas menjawab, “Allah Mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kutulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.”Abu Khalikan kemudian mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas dan benar saja, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah sebuah bantal. Di antara penggalan bait syair terakhir yang ditulis Abu Nawas berbunyiJika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja,Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon?Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali sebuah pengharapan,Juga bagusnya pintu maaf-Mu, kemudian aku pun seorang seorang muslim terjatuh ke dalam kubangan dosa dan maksiat berulang kali, pintu taubat selalu terbuka baginya sebelum maut menjemput atau Hari Kiamat seseorang yang membawa amalan sepenuh bumi namun ia menghadap Allah sebagai pelaku kesyirikan, maka amalannya sia-sia belaka QS. Az Zumar 65 dan ia kekal selamanya di dalam penderitaan QS. Al Maidah 72.Semoga Allah mengampuni Abu Nawas rahimahullah dan kaum muslimin seluruhnya. [] Penulis Wayan Bagus Prastyo* Diriwayatkan dalam sebuah hadis yang terkenal dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya” HR. Muslim. Di antara semua manusia yang bergairah mengetahui pelajaran hadis ini adalah Abu Nawas, dimana saat ia hendak wafat, ia mengucapkan syair yang sangat indah untuk mewakilkan tindakan taubatnya kepada Allah SWT. Dimana dalam syairnya terdapat susunan yang sangat sistematis dan indah dalam upaya kerasnya untuk mendapat ampunan dari Allah SWT. Syairnya juga sangat menyentuh bagi siapa saja yang membacanya, sehingga merasa menarik untuk menghafal sekaligus membahasnya. Lalu bagaimana manhajnya dalam menyusun sebuah syair yang sangat indah dan menyentuh dalam upayanya merayu Allah agar berkenan menerima taubatnya? Namun sebelum membahas manhajnya, maka pertama-tama kita membahas siapa itu Abu Nawas? RIWAYAT SINGKAT TENTANG ABU NAWAS. Rosihan Anwar menyamakan sosok Abu Nawas dengan Kabayan –tokoh komedian Indonesia-, namun ini dinilai sangat tidak proposional. Kabayan hanya mempersepsikan pelaku seni yang lugu, lucu, jujur, dan tidak hidup dalam hingar bingar metropolis kota peradaban. Meskipun begitu canda dan guyonannya sarat dengan pesan moral dan budaya kejujuran. Sementara Abu Nawas lebih kompleks dari itu, ia dianggap sastrawan yang polemis sekaligus vulgar, bombastis, kontroversional, dan sangat vocal menyuarakan kritik sosial. Bahkan ia dianggap sebagai intelektual penyair terbesar di kalangan masyarakat Arab kala itu. Nama asli Abu Nawas adalah al-Hasan ibn Hani, salah satu pembesar penyair atau sastrawan di zaman ad-Daulah al-Abbasiyah. Lahir di Ahwaz salah satu daerah di Khuziztan di sebelah barat Persia pada tahun 140 Hijriah dalam riwayat lain 145 H. Ras arab didapat dari ayahnya, salah seorang tentara Marwan ibn Muhammad khalifah Bani Umayyah terakhir. Sementara Ras Persia didapat dari ibunya bernama Julibban. Oleh karena itu ia tidak saja menguasai bahasa Persia tetapi juga dianggap salah seorang pionir kultur dan peradaban Persia di Baghdad. Pada usia 6 tahun ayahnya meninggal, sehingga ibunya mengajak untuk tinggal di Basrah. Demi memenuhi dahaga intelektual dan seninya, ia banyak mempelajari berbagai macam ilmu, baik ilmu-ilmu keagamaan, pemikiran, bahasa, dan sastra. Ilmu-ilmu agama ia serap secara intens, fatwa dari berbagai mazhab fiqh, tafsir baik tentang nasakh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, serta hadis. Dalam bidang bahasa dan sastra ia bergaul dengan Walibah ibn Hibban al-Asadi seorang penyair jenaka, abu al-A’tahiyah, Basyar bin Burd serta beberapa tokoh penyair dan intelektual lainnya. Ia juga membentuk sebuah komunitas dengan nama “Ishabah al-Mujan” perkumpulan kaum jenaka. Ia juga bergaul dan menimba ilmu dari dua tokoh ilmu nahwu seperti Abu Yazid dan Abu Ubaidah. Serangkaian perjalanan ilmiyah ia lakukan bersama gurunya Walibah ibn Hibban al-Asadi ke Ahwaz kemudian ke Kufah. Kehidupannya di Kuffah menambah kekentalan penguasaan intelektualitasnya. Ia rajin hadir dalam pertemuan ilmiyah para penyair yang biasa diadakan setiap hari bersama Walibah sambil minum-minum. Dalam kondisi mabuk, sering kali mereka mengkritik dan mencela para pendahulu dan pembaru. Pertemuan intelektual ini digunakannya untuk membiasakan bersikap spontan, melatih, meneliti, dan mengkritik kebudayaan, perilaku, bahkan realitas sosial. Dalam rangka penguasaan bahasa dari sumber aslinya ia menuruti saran Khalf Ahmar untuk mendalami bahasa pada masyarakat badui. Lalu ia ke Baghdad kemudian ke Mesir untuk menimba pengalaman intelektualnya. Abu Nawas kembali ke Baghdad pada saat Harun al-Rasyid menjadi khalifah, ia mulai mendapat kedudukan khusus di istana pada masa itu, sekalipun ia pernah dipenjarakan pada masa itu, kemudian dilepaskan kembali. Ia juga bergaul dengan beberapa penyair seperti al-Walid ibn Yazid, Adi ibn Zaid, dan Husein ibn Dhahak. Ada perbedaan pendapat mengenai tahun dan sebab kematiannya. Ada pendapat yang mengatakan ia meninggal di penjara. Ada pula pendapat bahwa ia mencela Bani Nubihkat, dan mereka memukuinya sampai wafat. Tahun wafatnya tercatat 190 H, dalam riwayat lain 197 H. SYAIR ABU NAWAS TERJEMAH DAN MAKSUDNYA Berikut adalah syair yang dimaksud dalam upaya kerasnya agar Allah berkenan menerima taubatnya. يا ربِّ إنْ عَظُمَتْ ذُنُوبِي كَثْرَةً فلقد عَلِمْتُ بِأَنَّ عفوك أَعْظَمُ إِنْ كَانَ لاَ يَرْجُوكَ إِلاَّ مُحْسِنٌ فَمَن الذي يَدْعُو ويَرْجُو المجرم أَدْعُوكَ رَبِّ كما أمرت تَضَرُّعاً فَإِذَا رَدَدَّتَ يَدِي فمن ذا يَرْحَمُ مَالِي إِلَيْكَ وَسِيلَةٌ إِلاّالرَّجَا وَجَمِيلُ عَفْوِكَ ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمُ “Wahai Tuhanku, aku mengetahui bahwa dosaku sangat banyak maka sungguh aku juga mengetahui bahwa ampunanmu lebih besar Apabila tidak ada yang boleh berharap kepada-Mu kecuali orang-orang yang baik maka kepada Siapa orang yang pernah berbuat jahat berdoa dan memohon? Aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku sebagaimana engkau perintahkan, dengan menampakan segala kelemahanku maka apabila engkau menolak permohonanku, kepada siapa lagi hamba memohon kasih sayang? Aku tidak mempunyai satu wasilah pun untuk memohon kepada-Mu kecuali harapan dan keindahan ampunanmu. Dan sungguh aku termasuk orang muslim berserah diri” MANHAJ SYAIRNYA Jika kita perhatikan setiap baitnya dari awal hingga akhir, maka dapat diambil sebuah sistematika yang indah dalam manhajnya menyusun syair tersebut. Kita lihat dari bait yang pertama bahwa ia memulai baitnya dengan “pengakuan” bahwa dosanya amat banyak. Jika di ta’wil lebih luas maka bait pertama dapat diartikan sebagai berikut “Wahai Tuhanku, hamba mengetahui bahwa dosa hamba selama hidup didunia amatlah banyak, maka hamba juga mengetahui bahwa ampunan-Mu lebih luas dan hamba memohon agar engkau menyayangi dan mengampuni hamba.” Kemudian bait kedua ia lanjutkan dengan “kegelisahan” yang ia rasakan. Jika di ta’wil lebih luas maka bait kedua dapat diartikan sebagai berikut “Dan apabila tidak ada yang boleh untuk memohon dan mendapat ampunan-Mu kecuali orang-orang mu’min yang baik yang memiliki banyak amal shalih, maka kepada siapa orang yang pernah berbuat dosa dan jahat memohon ampunan?” Kemudian bait ketiga ia lanjutkan dengan “permohonan”. Maka jika di ta’wil lebih luas bait ketiga dapat diartikan sebagai berikut “Dan hamba berdoa kepada-Mu wahai Tuhanku untuk memohon perlindungan dengan menampakkan segala kelemahan dan ketidakmampuan hamba sebagaimana firman-Mu.” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu Muhammad tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku….’ Dan apabila Engkau tidak menyanyangi hamba, maka tidak akan ada lagi sampai kapanpun Zat yang menyayangi hamba, kecuali hanya Engkau. Kemudian dalam bait keempat ia tutup dengan “kepasrahan” agar Allah berkenan menerima taubatnya. Maka jika dita’wil lebih luas bait keempat dapat diartikan sebagai berikut “dosa-dosa hamba amatlah banyak Wahai Tuhan, dan hamba tidak memiliki satu wasilahpun yang dapat hamba gunakan untuk mendekatkan diri hamba kepada-Mu kecuali dari luasnya ampunan-Mu, rahmat-Mu, dan keindahan ampunan-Mu, kemudian sungguh hamba adalah seorang muslim yang dengan ikhlas bertaubat dan berdoa kepada-Mu ” Demikianlah indahnya syair Abu Nawas dalam penghujung hidupnya demi mendapat ampunan dari Allah SWT. Adapun perihal diterima atau tidak taubatnya maka Allahu a’lam bissawab. Namun apabila merujuk kepada hadis diatas maka besar peluang diterima taubatnya. Dan dari syairnya tersebut dapat kita tiru dalam doa-doa kita dan dapat pula kita jadikan contoh tuntuk meluluhkan hati orang lain dengan merubah lafal-lafalnya, teteapi tetap dengan tarkib yang sama. Sebagai contoh nya adalah sebagai berikut Wahai Fulan/Fulanah, aku sadar bahwa aku memiliki banyak kekurangan, maka aku juga sadar bahwa segala kelebihanmu dapat menutupi segala kekurangan-kekuranganku itu Apabila tidak ada orang yang boleh bersanding denganmu kecuali orang-orang baik, maka kepada siapa orang-orang yang hanya ingin menjadi pribadi lebih baik berharap? Aku meminangmu Fulan/Fulanah, sebagaimana Allah perintahkan, dengan menampakkan diriku apa adanya, maka apabila engkau menolakku kepada siapa lagi aku memohon kasih dan sayang? Aku tidak punya satu wasilahpun yang dapat kugunakan untuk mendekatkan diriku denganmu kecuali doa-doaku yang berlabuh pada Allah SWT dan keindahan perilakumu. Dan sungguh aku mencintaimu.” Wkwkwkw. Ini cuma contoh. *Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Referensi Anshoriyah, Siti. Abu Nuwas Intelektual dan Humanitas Puisi. Al-Turasi No. 3 September 2004. Jamiah al-imam Muhammad ibn su’ud al-islamiyah. Kitab Silsilah ta’lim al-lughah al-arabiyah mustawa ar-rabi’ al-Balaghah wa an-Naqd. Riyadh. 2004. diakses pada tanggal 21 Desember 2019 pukul WIB. Syahdan, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer hingga dia mendapat julukan Penyair Khamer. Abu Nawas pernah membuat syair seperti ini "Biarkan masjid diramaikan oleh orang-orang yang rajin ibadah Kita di sini saja, bersama para peminum khamer, dan saling menuangkan Tuhanmu tidak pernah berkata, Cilakalah para pemabuk. Tapi Dia pernah berkata, Cilakalah orang-orang yang shalat." Gara-gara syairnya ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid marah dan ingin memenggal leher Abu Nawas. Tapi, ada orang yang mengatakan kepada Ar-Rasyid “Wahai Amirul Mukminin, para penyair mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Maafkanlah dia Abu Nawas". Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menshalati jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini "Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak, tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar. Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan? Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku. Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu dan keindahan ampunan-Mu dan aku pasrah setelah ini.” Setelah membaca syair tersebut, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Dia langsung menshalati jenazah Abu Nawas bersama orang-orang yang hadir. KH Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta Ya Allah, jika dosa- dosaku besar dan sangat banyak Namun sesungguhnya aku tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon ? Aku berdoa kepada-Mu dengan penuh tadharru’ sebagaimana Engkau perintahkan Lalu jika Engkau menolak permohonanku, lalu siapa yang akan merahmatiku ? Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian aku pun berserah diri Catatan Abu Nawas adalah penyair masyhur di era kerajaan Abbasiyah dengan kehidupan hedonis seperti dikesankan dalam hikayat “100 Malam” Alfu Lailatin wa Lailah. Dikisahkan dalam kitab “al Bidayah wa Nihayah” karya Ibnu Katsir, bahwa Abu Nawas dimasa mudanya memang gemar meminum khamr, sampai-sampai beliau menulis syair tentang sensasi meminum khamr berjudul khamriyyat. Abu Nawas juga gemar bersenang-senang dengan banyak perempuan dan dianggap sebagai seorang zindiq. Kendati terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas kemudian mendapat hidayah dari Allah SWT. Setelah sungguh-sungguh bertaubat, kemudian beliau menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al Qur’an, ilmu hadis, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Diriwayatkan, syair di atas adalah nukilan dari karya Abu Nawas yang ia tulis sebelum wafat. Syair yang ditulis pada secarik kertas tersebut ditemukan di bawah bantal Abu Nawas tidak lama setelah beliau wafat.

syair abu nawas sebelum meninggal